Selasa, 30 Oktober 2012

Bisa karena Tuhan, saya dan Mereka

Sukses dimata saya. Tak ada kesuksesan tanpa bermanfaat bagi sesama dan lingkungan. Materi, tak saya pungkiri pula bahwa itu penting.. Sukses berawal dari mimpi. Bagi saya, tak hanya kesungguhan dan keteguhan tapi saya membutuhkan dukungan.Papa, Mamah, Sahabat, dan kamu. Selebihnya, saya yakin Tuhan menyayangi saya. Doa yang saya rapalkan, hati dan keyakinan pasti berbalas. Saat saya leleh, Tuhan memberikan keyakinan bahwa saya bisa. Itu rencana. dan saya yakin rencana yang ada mempunyai akhir yang bahagia. Saya lahir bukan hanya untuk menjadi penonton yang mengaggumi kesuksesan orang, tapi saya juga mempunyai mimpi, ia mimpi merupakan jalan yang meyakini saya bahwa saya memang bisa. Dan Mama adalah orang yang selalu percaya saya bisa. Papa, walau jarang bertatap muka, tapi air, nasi, tempat tidur sampai laptop yang saya gunakan sekarang merupakan keyakinan Papa untuk memastikan saya dapat meraih mimpi. Tanpa kata, saya dapat merasakan bahwa dukungan selalu ada. beberapa helai rambut mu mulai memutih, Kakimu mengecil, Tidur hanya beberapa jam. Mama, Ia selalu sakit saat saya juga sakit, Di depan matanya makanan enak, tapi ia selalu mengingat saya.

Sahabat. Siska eka Chyntia, kata - kata yang keluar cenderung tajam dan menyakitkan. Tapi itulah yang membuat saya nyaman dengannya. Jarang sekali ia berargumen palsu. Tajam tapi jujur. Ibarat obat. Saat saya sakit, maka kebanyakan obat itu pahit. Tapi itulah yang dapat menyembuhkan si sakit. Terima Kasih Siska. Atas dukungan dan keyakinan saya si pemimpi yang akan mewujudkannya. Mungkin sesekali ia lelah mendengar mulut saya yang tak pernah berhenti bercerita saat di kampus, masih menerima sms dari saya saat di kosan. Sydney Edelin Putri. Kejujuran, dan keyakinan yang kamu berikan semoga dapat saya pegang. Selalu mau menerima saat saya numpang mandi, numpang masak mie atau goreng opak. Iya opak ternyata bukan Becak. Dan diskusi di angkot yang memberikan saya spirit untuk terus berjuang. Walau kalian berdua selalu mengganggu jam tidur saya saat di angkot, tapi tak wajar bila saya mengungkit itu, sedangkan cerita manis lebih banyak saya terima.

kamu, iya kamu. tak ada manusia seperti kamu. Ikhlas, penyayang dan jarang marah. Sejam kau sering mendengarkan saya bercerita melalui selular, membacakan tulisan saya. Kau selalu tersenyum. Dan saat saya sakit, Kamulah yang pertama melarang saya mandi dengan air dingin. Aahhh cukup membuat saya tersenyum. 

Entah sampai kapan mereka selalu ada? bagaimana saat nanti saya di pecundangi dengan yang namanya takdir? 
Sampai pada titik jenuh dan hampir putus asa? lelaaaahhh
Sampai kapan kalian dukung Saya? selalu meyakinkan bahwa saya bisa? Sukses juga harus menjadi milik saya
Tuhan, mereka yang Engkau kirim buat saya, mereka jugakan yang akan membantu misi saya? Dengan mereka saya mencapai mimpi saya? 
Semoga saja aminn,..

Hanya fiksi, Ma'af Untuk yang Terkasih

Formulasi yang pas. Hujan, sepi dan air mata. Kisah ini di lahirkan dari sebuah pikiran yang mungkin kalian juga pernah mengalaminya. Dwitasari. Dari salah seorang sahabat saya, saya mengenal blogger tersebut. Penataan bahasa yang apik, musikalisasi puisi menyentuh, memaksa air mata meluncur. Tidak, tapi tidak dengan beberapa waktu lalu kecuali malam ini. Iya malam ini membuat saya ingin kembali berfikir mengenai, Masa lalu, cinta dan kejujuran . Kebanyakan orang memaknai cinta dari seorang anak manusia yang masih duduk di SD sebagai cinta monyet. Cukup menggelitik dalam pikiran, dulu cinta ini tak menguras emosi, harga diri dan menerobos kewajaran. Siapa sangka cinta monyet menjelma menjadi cinta gorila,..ehm,..iya gorila tua, ... Silahkan simak, resapi dan tinggalkan komentar mengenai tanggapan anda, jika berkenan..


Masa lalu anak SD kelas 6 bernama Keyza, panggilan Key. Cinta monyet pernah juga ia alami. Namun Ia tidak berkehendak cinta itu menjadi cinta gorila, iya bahkan saat ia di SMP pun rasa itu tetap ada. Tersenyum saat melihatnya, membuang muka saat laki - laki itu berbalik badan, Bahkan saat sembahyangpun, saat sujud sering key melihat telapak kakinya. Laki - laki itu bernama Gilang. Lama - kelamaan perasaan itu menobrak kewarasan. YAng ia pikir, cinta itu harus selalu di pendam dan di jaga. Alasannya masuk akal, wajah yang ia miliki seakan belum menjamin cintanya bersambut. NAmun Key menjelmakan cintanya melalui kata. Malam hari, dia telungkup sambil tersenyum. Tangan kanannya mengayun menggoreskan tinta kejujuran. Curahan hati yang menguras emosi. menjadi pengagum untuk setahun bukan hal mudah. Pagi hari ia menyetorkan tulisannya melalui seorang teman. Sore hari menjemput respon dan pesan yang Gilang kirimkan buatnya. Mereka berdua sangat nyaman. Tapi bagi Key itu tidak cukup.Identitas  mutlak diperlukan. Namun Gilang lebih memilih hubungan seperti ini. Dua kali Key pernah di paksa, di seret oleh teman - teman Gilang untuk bertemu dan berbicara namun menolak. Belum cukup keberanian atau mungkin gadis ini terlalu bodoh.
Hingga perpisahan sekolah itu, setahun Key tak melihatnya. Namun perasaan itu tetap tumbuh, seperti jamur yang akarnya tertancap kuat. Hanya air mata yang tahu. Betapa setiap malam berdoa untuk menghadapi ujian. Ingin rasanya Key bersekolah yang sama. Namun waktu mempermainkannya, Gilang telah bersama orang lain. Saat hari pertama ia masuk SMA, pemandangan yang ia lihat tangan Gilang melingkar pada seorang gadis. Perasaan itu ia simpan, Hingga alam berkonspirasi mempertemukannya dengan Ray, pacar Key sekarang. Key tahu, Rey bersahabat dengan Gilang. Saat kebetulan mereka bertiga, disanalah kebahagiaan buat Key. Menatap, melihat dan memastikan Gilang bisa tertawa. 
Dan Tuhan membukakan mata hati Key, Rey tulus, selalu setia menjadi pendengar, berbagi seolah sahabat dan sama - sama mencari penyambung jajan saat tanggal tua. 4 tahun kini mereka menjalin hubungan. TApi setelah waktu berjalan begitu jauh, Tuhan masih menyimpankan perasaan ini untuk ia. Iya dia Gilang. Namun entah rasa sayang yang dahulu, atau kepenasaran yang selalu bergelantungan dalam benak. Tuhan, andai Tuhan mengambulkan permintaan Key, ingin rasanya waktu di putar, ke 7 tahun silam. Saat tangan ini di tarik tarik, menolak untuk bertemu. Menyesali kebodohan yang pernah diambil. 
bahkan saat Tuhan memberikan kesempatan untuk Key dapat menyapa masa lalunya, ia hanya berani di balik topeng. Menggunakan jejaring sosial milik kekasihnya. Entah syaitan atau malaikat yang berbisik. Dengan gemetar, Key menyapa masa lalunya. Saling bertukar informasi. Dan berakhir dengan air mata. Untuk ke dua kalinya dengan nama perasaan ia menjadi orang bodoh. Menyia - nyiakan perasaan. kata ma'af itu yang bisa Key berikan untuk Ray. Tidak untuk jaminan kejadian ini tidak akan terulang. Oh Tuhan, bahkan atas nama cinta, intelektual dan prinsip berfikir rasional tidak berlaku. Masa lalu yang ingin Key ulang atau kekasih yang jelas menjamin kebahagiaan. Tapi bukankah walaupun Key bersama Ray, tidak akan bahagia selama masa lalu itu terus tumbuh?
Salahkah Key yang mengkhianati Kekasihnya?
Bodohkah Ray yang mempertahankan pengkhianat?
Atau Gilang manusia kejam yang telah membiarkan masa lalu tumbuh dengan liar atas nama penasaran?
Entahlah, Bukankan Perasaan ini kehendak Tuhan,.!!!
Yang jelas akan susah sekali mengimplementasikan kata :
Selamat Tinggal Masa Lalu